Perguruan Tinggi Diimbau Susun Kurikulum Sesuai Pasar Kerja
PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin meminta agar perguruan tinggi (PT) di Sumsel menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan pasar kerja.
Dia mengimbau, PT membuka program studi baru yang peluang kerjanya masih terbuka lebar. “Masalah sekarang ini adalah market-nya ada atau tidak, jurusan ini diperlukan atau tidak. Kalau dibutuhkan, berapa banyak? Untuk itulah, jika tidak lagi diperlukan, jurusan tersebut untuk distop dan mencari jurusan lain yang lebih terjamin,” ujar Alex di Kantor Gubernur Sumsel kemarin.
Alex berharap, PT jangan terus mencetak sarjana, tetapi lowongan kerja tidak ada karena pasarnya kurang. Otomatis, karena setiap tahun ratusan bahkan ribuan sarjana keluar tentunya akan membuat sarjana menganggur makin meningkat.
“Kita sudah berikan masukan dan kita minta PT melakukan survei. Jurusan apa yang peluang kerjanya terbuka luas, itulah yang dikembangkan. Jangan seperti selama ini semua lulusan bertitel SH dan SE yang sudah mencapai ribuan. Sementara, peluang sudah menipis. Harus cari yang baru dan dibutuhkan sehingga tidak ada yang menjadi pengangguran,” imbuhnya.
Selain harus dilakukan pencarian pangsa pasar baru, kata Alex, kualitas PT juga harus diperhatikan. Jika PT tersebut berkualitas, tentunya sarjana yang dihasilkan juga berkualitas. Artinya, tidak cukup sekolah didirikan di sebuah ruko yang kualitasnya belum jelas. “Diharapkan masyarakat jangan tertipu dengan iming-iming atau janji palsu perguruan tinggi, padahal tidak jelas. Biasanya masyarakat yang masuk adalah mereka yang hanya menginginkan gelar. Tradisi inilah yang membuat status perkuliahan rusak,” kata Alex.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Sumsel Prof. DR. Muhammad Sirozi mengatakan, memang untuk mengurangi banyaknya sarjana yang menjadi pengangguran dan bekerja tidak layak ini harus dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Dengan begitu, akan diketahui sarjana apa yang dibutuhkan. Tidak seperti selama ini, jurusan terus dibuka sementara peluang kerja sangat sempit. Hal inilah yang harus diubah.
“Tingginya sarjana yang bekerja sebagai buruh bahkan menganggur karena tidak ada sinkronisasi antara lulusan yang dihasilkan dengan kebutuhan. Akibatnya, kebutuhan sedikit sementara lulusan yang dihasilkan mencapai ribuan tentunya akan membuat banyak yang menganggur,” kata dia.
Ke depan, pihaknya bersama rektor se-Sumsel akan membahas masalah ini secara mendalam. Dengan begitu, permasalahan yang seharusnya tidak terjadi ini tidak akan terulang. Jika perlu, ketika lulus kuliah, sarjana tersebut sudah dapat bekerja sendiri, tidak seperti selama ini yang tergantung akan lowongan pekerjaan.
Kepala BKD Provinsi Sumsel H Muzakir menambahkan, sebenarnya lulusan yang dibutuhkan akan terlihat pada saat dilakukannya seleksi pegawai negeri sipil (PNS) di setiap daerah. Jika pegawai yang diterima untuk satu formasi banyak, berarti lulusan tersebut dibutuhkan banyak. Akan tetapi, jika formasi hanya dibutuhkan satu, berarti peluang pengangguran tersebut akan banyak.
“Biasanya formasi yang banyak ini untuk jurusan ilmu komputer,kesehatan, dan guru.Jurusan lain tetapi tidak begitu banyak,” kata dia.
Terpisah, anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumsel Suharindi SJ S.Pd., MM., mengatakan, memang antara kebutuhan dengan lulusan tersebut perlu diperhatikan. Jangan sampai lowongan sempit sementara lulusan sangat banyak. Hal tersebut dipastikan akan membuat pengangguran meningkat untuk jurusan tertentu. “Agar pengangguran di kalangan sarjana ini berkurang harus diperhatikan antara kebutuhan dengan lulusan. Jangan sampai lulusan banyak tetapi lowongan kerja sedikit. Akibatnya, banyak sarjana yang bekerja sebagai tukang ojek, sopir, dan buruh lainnya karena lapangan kerja sedikit,” kata dia. (yayan darwansah/sindo)

sumber: okezone.com -- Rabu, 22 September 2010 - 15:13 wib
http:// kampus.okezone.com /read/2010/09/22/373/374690 /perguruan-tinggi-diimbau-susun-kurikulum-sesuai-pasar-kerja
















unindra mail
